Resensi – Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari

Kalau mengaku suka sastra, pasti tau betul siapa Ahmad Tohari.

Yep. Penulis Indonesia dengan salah satu karyanya yang berjudul “Sang Penari” sukses difilmkan. Sebenarnya ini diadaptasi dari trilogi, gabungan dari tiga novel berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”, “Lintang Kemukus Dinihari” dan “Jantera Bianglala”.

Awalnya baca karena tugas mata kuliah film beberapa tahun yang lalu, sebelum saya bangkotan seperti sekarang. Sebelum nonton filmnya, kami diwajibkan membaca ronggeng dukuh paruk terlebih dahulu. Itu pertama kalinya saya baca novel yang “tidak malu-malu” alias gamblang betul.

Kalian harus baca biar tau apa maksud saya. Hehehehe..

Saya ceritakan secara singkat saja, ya lur. Bahwa novel tersebut bercerita tentang persahabatan anak perempuan dan laki-laki bernama Srintil dan Rasus. Kemudian pada masa kecil mereka, seorang ronggeng terkenal meninggal karena keracunan.

Setelah 12 tahun kematian Ronggeng tersebut, Srintil berhasil dinobatkan sebagai ronggeng dukuh paruk yang baru, karena bakatnya menari ronggeng sejak kecil tumbuh dengan sendirinya tanpa diajarkan oleh siapapun. Sebagai sahabat Srintil, Rasus nampak agak tidak setuju dengan keputusan Srintil untuk menjadi Ronggeng Dukuh Paruk karena khawatir, dan lebih-lebih cemburu karena Srintil menjadi dikenal oleh banyak orang, dengan kata lain tidak ada lagi waktu bermain dengannya seperti dulu. (Mohon koreksi kalau ada kesalahan).

Selanjutnya kalian harus baca sendiri, karena novelnya benar-benar bagus. Karena banyak kejadian yang tidak terduga, alias gak mudah ditebak. Atau paling nggak… tontonlah filmnya…….

oh! lupa saya, filmnya susah didapatkan. Itu hanya untuk pembelajaran kuliah saja. Dulu tidak dipublikasikan luas. Saya tidak tau bagaimana dengan sekarang. Mungkin sudah dipublish? Mungkin..

Kemarin novel Ronggeng Dukuh Paruk sudah bisa ditemui di toko buku, dan lagi-lagi, dulu susah sekali untuk cari buku itu. Bahkan sampai rebutan di perpustakaan. 😂

Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel pertama yang saya baca dengan gaya cerita tidak menye-menye atau pasaran. Saya pun ikut hanyut ketika membacanya, rasa-rasanya saya juga ikut tinggal di Desa Dukuh Paruk bersama Srintil dan Rasus. Mungkin, ini bisa jadi referensi buku untuk kalian yang pusing nyari novel berbobot, yang ceritanya gak pasaran.

Oh! saya kemarin ada beli buku dengan judul “Sekumpulan Orang-Orang Keren Bernama Dayat” karya Pidi Baiq dan “Indonesia berkerabat” karya Andika Hendra.

Baru saya baca yang punya Pidi Baiq dan sudah selesai tadi sore. Iya Pidi Baiq..

kalian yang anak milenial pasti tau novel Milea ama Dilan dong? Ya Pidi Baiq ini pengarangnya. Bedanya novel “Dayat” ini lebih banyak cerita misteri dan komedinya. Bagus juga. Nanti saya kasi ulasan di halaman yang berbeda sajah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s