Soliloquy- Kakakmu kok Boleh? Kok Kamu Enggak?

Kakak boleh, kok aku nggak?

Dulu aku sering kepancing pertanyaan ini dan suka iri.
Sekarang… kadang masih ngerasa iri.
Tapi yaudahlah.
Kalo protes malah capek sendiri.

Sering di-anaktiri-kan sepertinya malah bikin aku jadi lebih “ngerti” keadaan … Atau dipaksa ngerti sama keadaan?

Mulai dari hal-hal kecil seperti sepatu sekolah.

Kalau Kakak harus dibelikan sepatu merk Gosh model x, Aku sih iya-iya aja dibeliin sepatu di Kreneng, yang merknya Dallas, harga 40ribuan.. Itu karena kasian dengan ortu yang pas-pasan
Yep, Aku inget banget, lantaran merk sepatu aku dulu sering diketawain temen-temen juga.

Tapi ya gimana, bodo amat.
Waktu itu aku cuma mikir yang penting warnanya item, biar gak kena sidak guru dan konsidinya bagus, alias gak bolong. Udah. Itu aja cukup.

*Bagi yang ga tau, kreneng itu pasar yang jual barang-barang murah di daerah Denpasar Bali.

Ulang tahun pun begitu.
Kalau Ingat alhamdulillah, kalau gak Ingat ya sudah.
Mindset Itu sudah terlatih sejak kecil. Makanya sampai sekarang kalau ulang tahun biasa aja. Bahkan ketika tahun ini sempet dapet surprise dari temen-temen di Lombok, aku bingung harus bereaksi gimana.

Gara-gara kebiasaan bodo amat sama ulang tahun sendiri ini juga Aku jadi lebih suka ngasi surprise atau selamat, dibanding nerima surprise itu sendiri.

Untuk memastikan aja, temen-temen deket ku gak merasa kesepian seperti aku ketika ulang tahun.

Kalau aku sih… Udah biasa.
Well.. sempet terharu ketika buka twitter, yang ngucapin cuma twitter, selama bertahun-tahun.
Aku sengaja non-aktifkan notifikasi tanggal lahir di Facebook.

Karena justru dari situ, aku tau yang mana yang memang ingat, juga yang mana yang ingat hanya karena Facebook. Gak butuh juga semua orang tau.

Aku merasa gak papa di-nomorduakan, sampai akhirnya aku pernah “dilupakan” untuk daftar SMP. Ini adalah titik puncak dimana aku ngerasain perlakuan gak adil.

Ngomong-ngomong usia kakak dan aku beda 3 tahun dan jarak-ku masuk SMP barengan dengan kakak yang masuk SMA.

Orang tuaku sibuk ngurusin kakak masuk SMA Negri.

Aku? Dilupain sampai pendaftaran SMP Negri tutup dan akhirnya aku didaftarkan di SMP PGRI.
Aku marah banget waktu itu.
Ini pertama kalinya aku marah, setelah sekian lama diperlakukan beda dan bertanya-tanya, segitu sibuknya mereka dengan kakakku?
Aku gak akan marah, jika itu menyangkut baju, sepatu, atau apapun, karena aku gak peduli merk apapun yang dibelikan, aku pasti oke. Aku lebih mikirin fungsi barangnya, alias asal bisa dipake.
Kali ini aku marah, karena ini menyangkut masa depanku.
Boleh gak sekali-kali aku milih apa yg aku pengen?

Tapi lama-lama aku sadar, bahwa yang penting fungsinya sekolah adalah tempat belajar. Bukan masalah “brand” sekolahnya.

Sama seperti barang. Gak penting pakai merk apa, asal fungsinya sama.

Akhirnya aku mati-matian belajar juga ikut berbagai macam kegiatan dan lomba dalam bidang kesenian. Untuk buktiin bahwa aku juga bisa masuk SMA Negri tanpa didaftarin siapa-siapa, alias lewat jalur prestasi bidang kesenian.

Sebelumnya sempat beberapa kali dinotice oleh beberapa guru Killer, yang tiba-tiba baik sama aku, karena nilai-nilaiku bagus dan ranking 1 terus selama 2 semester berturut-turut, sampai naik ke kelas 2 dan masuk kelas unggulan.

Aku juga dapat tawaran pindah ke SMP Negri yang dulu sempat jadi impianku. Tapi aku tolak dengan alasan sepele. “Di PGRI aku bisa belajar musik”.
Padahal beberapa temen yang juga dapet tawaran sudah pindah ke SMP Negri itu.

Omong-omong aku udah bisa main gitar sebelum ekskul musik.

Iya belajar sendiri, alias otodidak.

Oiya, mulai dari sinilah aku main musik. Dulu sempat jadi bahan omongan, karena semua anggota ekskul musik itu cowok, dan ceweknya cuma 5 orang, alias aku, dan 4 orang temen yang aku paksa nemenin aku ikutan ekskul musik.

Namanya Ella, Lina, Vivi, dan Ayu.
Mereka juga anak-anak kelas unggulan.

Sekarang ini 3 dari mereka udah nikah. Sedangkan aku dan Ayu terakhir kali ketemu lagi waktu lanjut kuliah S2 di UNUD.

Balik lagi ke masa-masa dimana aku dan temen-temen ciwi ciwi diejekin. “Gak cocok main gitar, gak cocok main drum,” gitu katanya.
Tapi begitu dites maju ke depan untuk main gitar, drum, dan sebagainya, cowok-cowok itu langsung diem. karena aku dan temen-temen cewek ternyata lebih Jago dari pada para jejaka.
Maaf, bukan maksud sombong, tapi cuma ingin berbagi, bahwa waktu itu aku puas banget ngetawain mereka yang pernah ngetawain kami, para cewek.

Intinya aku gak nyesel masuk PGRI, walaupun banyak orang yang pernah underestimate ketika ditanya
“Masuk SMP mana dek?”
“PGRI tante”
“Kenapa gak ambil Negri aja?”
Ini nih mindset yang gak aku suka. Memangnya semua anak negri sudah pasti pandai? Dan apakah semua anak yang di luar sekolah negri itu bodoh?
Aku benci banget mau jelasin panjang lebar. Akhirnya cuma bisa senyum.

Aku juga pernah menang lomba desain presentasi Microsoft PowerPoint waktu kelas 3 SMP di PGRI, and many more. Hanya untuk membuktikan bahwa anak PGRI juga bisa berprestasi.

Soal pacaran pun demikian. Kakakku dibebaskan pacaran sejak SMP, sedangkan aku, bukannya gak dibolehin secara explicit, tapi ada kode-kode yang mengarah bahwa baiknya aku gak pacaran. Akhirnya sampe lulus SMA pun aku ga pernah jalan berdua sama cowok.

Soal itu, aku gak pernah protes, karena justru aku jadi lebih konsen dapetin nilai tinggi di sekolah, sampe masuk UGM jalur PBOS atau penelusuran bakat olahraga dan seni.

Dulu aku sering banget ikut lomba dan alhamdulillah bawa hasil yang memuaskan.

Aku kumpulin semua sertifikat juara Lomba menggambar, melukis, musik, dan teater selama SD-SMP-SMA.

Ntah karena terlalu banyak kekesalan yang menumpuk, orang bilang aku jadi kasar dan agak rebel. Memang nilai-nilai ujianku tetep bagus, tapi caraku berpakaian, caraku berkomunikasi dengan orang, semuanya “seperti bukan aku”. Kata Almh. mama gitu.

Orang tua ku pernah dipanggil ke sekolah. Bukan karena nilaiku jelek.
Justru karena nilai-nilaiku bagus, tapi sayang, cara berpakaian dan perilaku kadang dinilai gak sopan oleh guru.

“Dulu adek itu lembut, sabar, gak pernah marah, sekarang kok cepet marah?”
Aku agak kangen dinasehatin mama kayak gini. Cuma beliau yang ngerti kenapa aku berubah. Dan beliau sering minta maaf kalau gak sengaja berlaku gak adil.

Padahal aku gak pernah mengharapkan beliau minta maaf. Akhirnya aku mulai berusaha mengontrol emosi.

Oiya, aku juga pernah dimarahin orang tua waktu SMA karena sering pulang malam, alias jam 12 atau jam 1 malam.
Aku udah bilang, aku bukan dugem, alias ikut teater, dan belajar gimana main di panggung dan atur lighting/lampu panggung, dimana main-main lampu lebih pas dilakukan di malam hari.

Dan latian teater gak kayak sinetron yang bisa di-cut, tapi juga harus hapal semua dialog, gerakan, dan kalau lupa, sebisa mungkin harus improvisasi, supaya penampilan tetep berjalan lancar tanpa cut.

Orang tua marah dan sempet dateng ke sekolah, tanya kenapa pulangnya malam terus?
Aku diem aja, sampai akhirnya aku berhasil bawa pulang piagam, dan sedikit uang tunai (karena dibagi-bagi orang banyak/pemain teater lainnya).

Waktu itu aku jadi sutradara, judul teaternya Prambanana, diangkat dari komik Prambanan kisah Roro Jonggrang, tapi dibikin nyeleneh. Lomba ini diselenggarakan oleh Young Sounds of Bali.

Aku masih inget pemain-pemain utamanya. Ada Erwin, Ditha, Buyung, Runa, Tane, Faisol, dan lain-lain.

Setelah itu aku dibebasin ngapain aja. Termasuk ikut lomba band di Club malam, Blue Eyes Cafe Bali, yang juga jadi juara favorit waktu itu. Orang tuaku mulai membebaskan, toh aku pulang bukan mabuk, tapi untuk bawa piagam.

Sampai sekarang aku masih suka caper alias nyari perhatian orang tuaku, meskipun salah satunya, alias mamaku, udah gak ada.

Meskipun dibedakan, aku sangat bersyukur, karena justru dari sana aku bisa belajar mandiri, belajar banyak hal, yang mungkin gak akan aku dapat kalau aku juga dimanjakan orang tuaku.

Lagian iri gak akan mengubah apa-apa.

Sampai sekarang pun, ketika Papa pensiun, beban tanggung jawab bukan jatuh ke kakak, tapi ke aku.
Tapi gak papa.
Aku kerja, untuk bayar listrik dan kebutuhan hidup sehari-hari. Termasuk masak. Oiya, belakangan tiap weekdays Papaku yang masak, karena aku sering dapat teguran telat masuk kantor.

Aku bener-bener ga sanggup dengan kerjaan yang numpuk dan harus bangun pagi untuk masak. Yang dimana, aku juga butuh refreshing. So, weekdays Papa aku masak, dan weekend jadwalku masak.

Management duit itu sangat menyiksa terutama waktu aku memaksakan diri untuk daftar S2 tanpa beasiswa dan tanpa uang dari orang tua.

Tapi justru dari sana, aku bisa belajar atur uang dengan baik. Jadi sekarang aku mikir, semua yang aku jalanin, walaupun orang berpikiran negatif, pasti ada sisi positifnya. Contohnya soal “kenapa kok gak masuk SMP Negri” tadi. Toh itu tidak menutupi prestasi seseorang juga.

Sampai sekarang banyak orang yang tanya, kenapa repot-repot kuliah lagi? Well… Waktu itu, cita-citaku jadi dosen.
Alasannya bukan karena kerjaan bergengsi, melainkan supaya aku bisa bagi-bagi ilmu, juga mau memperbaiki mindset anak-anak muda sekarang, yang mungkin bisa mengubah masa depan.

Selesai kuliah ini, keuanganku masih gonjang-ganjing.
Pernah ada satu Kampus yang nawarin gabung jadi dosen atau instructor, sayangnya bayarannya kecil. Tapi tetep aku iyakan saja.
Alasannya ya karena memang cita-cita

Lagian mereka sedang dalam usaha memperbesar status kampus dari sekolah tinggi jadi politeknik, yang kemudian menjanjikan bayaran yang lumayan ke aku.

Politeknik tersebut baru buka tahun depan. Jadi, sembari menunggu kampus buka, ini kesempatanku juga memperbaiki keuangan dengan bekerja di perusahaan swasta yang sebenernya bayarannya lebih tinggi.
Kalaupun nanti bayaranku nggak tinggi ketika jadi pengajar, Aku gak peduli. Rasanya lebih seneng kalau hidup bisa lebih berguna dan berbagi buat orang banyak.

Mudah-mudahan, untuk sementara, dari bekerja di perusahaan swasta ini, aku bisa nabung lagi.

Paling gak, untuk mengembalikan tabungan yang sempet aku habiskan untuk biaya S2 kemarin.
Mimpiku semoga aku bisa berguna buat orang lain, alias ada alasan hidup yang baik.

Aku juga gak peduli omongan orang lagi. Aku lebih fokus ke berbuat baik ke orang.
Ada yang bilang: “mungkin balasannya gak langsung datang dari orang yang kamu tolong, tapi bisa jadi kamu mudah dapat pertolongan dari orang lain.”

Moto baru juga yang aku pegang dari Alm Bapak Sutopo Purwo Nugroho:
“Hidup itu bukan soal panjang pendeknya usia, tapi seberapa besar kita berguna bagi orang lain”

Aku nulis ini karena memang ga tau ingin bercerita sama siapa. Cuma belakangan merasa harus cerita. Siapa tau ada yang punya pengalaman sama. Karena kayak tadi, membiarkan rasa kesal menumpuk itu gak baik. Yang ada, tanpa sadar malah merubah prilaku. Yang tadinya diem, jadi suka uring-uringan ga jelas.

Pesanku, jangan menyerah untuk berjuang dan gak apa-apa untuk dibedakan, bahkan menjadi berbeda.