Random Soliloquy – Pawon, 7.45

Aku di pawon. Meracik tempe bacem kesukaan ayahku. Yang kebetulan proses rebusnya cukup lama. Paling tidak airnya harus sampai kering, supaya bumbunya meresap ke dalam. Rentang waktu memasak tempe bacem ini kumanfaatkan untuk berbicara. Berbicara melalui tulisan yang sekarang ini kalian baca. Kalau teman-teman lebih memilih untuk bercerita pada sahabat terdekatnya, Aku lebih memilih bercerita di internet. Intinya sama saja kan? Ada orang yang membaca artinya ada yang mendengarkan. Bedanya hanya pada titik kebosanan.

Teman bisa saja bosan pada cerita kita yang itu-itu saja. Karena teman suka aneh. Jika tidak bercerita, dia akan terus bertanya. Jika bercerita, mereka bisa saja menguap mendengarkan cerita kita. Aku pun menghormati, bahwa manusia pasti akan bosan. Dan alasan mengapa aku lebih suka bercerita di Internet, bahwa perihal kebosanan itu tidak terjadi pada internet. Jika ada yang membaca syukur, tidak ada pembaca pun tak apa. Rasanya ringan saja sudah bercerita. Apalagi bercerita tentang kau yang tidak ada habis-habisnya. Bisa-bisa seluruh temanku akan bosan mendengarkan tentangmu.

Hari hariku belakangan ini semacam krupuk melempem. Melempem tapi pura-pura renyah. Kalau ditanya teman-teman kujawab saja seadanya dengan ekspresi yang kupastikan terlihat biasa-biasa saja. Walaupun sebenarnya aku ingin membanting barang-barang di sekitar sambil teriak-teriak. Tapi mengingat kondisi ekonomi, bahwa aku tidak bisa mengganti barang-barang mahal milik atasan, dan mengingat kemungkinan bahwa teman-teman akan menganggapku gila setelahnya, Aku pun mengurungkan niat, dengan menyembunyikan emosi dan berekspresi biasa-biasa saja. Menjawab pertanyaan bahwa kabarmu baik, walau aku juga tidak pernah bertemu denganmu lagi.

Ya alasannya karena tadi. Aku malas bercerita panjang lebar dengan teman-teman yang mungkin saja akan bosan atau kasihan mendengar ceritaku. Dan aku orang yang cukup tau diri untuk tidak mau membuat mereka bosan dengan ceritaku. Dan aku paling malas dikasihani.

Buat apa?

Toh aku senang walaupun waktu itu kau cuma bercanda.

Ada kalanya beberapa orang teman diam-diam bertemu kau yang berupaya menghilang dari peredaran. dan mereka, tentu saja merahasiakannya dariku. Tenang saja, aku tidak akan bertanya pada mereka. Walaupun ingin. Tapi seperti yang kubilang tadi, aku ini cukup tau diri. Kalau kau tidak mau diganggu, ya aku tidak akan bertanya. Aku juga tau teman-teman akan risih jika aku bertanya soal kau. Jadi, aku pun tidak bertanya apa-apa pada mereka. Aku menjaga kenyamanan kau dan teman-teman. Jadi tenang saja. Aku tidak akan bertanya apa-apa lagi.

Kusesap kopi yang kuracik sendiri dengan jahe dan gula jawa. Rasanya enak. Pahit, manis dan hangat. Entah kenapa aku juga jadi ingat kau tiap kali lihat jahe.

Oh, bukan. Bukan karena kau mirip jahe. Tapi karena kau dulu juga sering membuat minuman jahe, dan kau juga pernah minta jahe padaku yang juga suka membuat minuman jahe. Bedanya kau buat teh manis dan aku kopi hitam tanpa gula. Yang pernah kau bilang bahwa rasanya aneh karena terlalu pahit.

Aku tau kalau saja kau membaca tulisan ini, kau pasti akan tertawa geli. Dan tidak habis pikir kenapa aku menulis tentang kau. Yah, aku cuma butuh teman, atau benda mati yang bisa mendengarkan ceritaku. Salah satunya melalui mesin blog ini. Iya. Salah satunya dengan menulis ini.

Kalau kau mau protes untuk berhenti ditulis, proteslah pada dirimu sendiri. Siapa suruh kau buat anak sastra jatuh cinta? Ini lah akibatnya..

Oh, soal yang dulu-dulu, Kau boleh lupakan saja, terutama kalau kau anggap kesalahan sudah sempat bercanda denganku. Tapi aku senang.

Terimakasih sudah mau,

Paling tidak untuk berteman lagi.

Resensi – Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari

Kalau mengaku suka sastra, pasti tau betul siapa Ahmad Tohari.

Yep. Penulis Indonesia dengan salah satu karyanya yang berjudul “Sang Penari” sukses difilmkan. Sebenarnya ini diadaptasi dari trilogi, gabungan dari tiga novel berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”, “Lintang Kemukus Dinihari” dan “Jantera Bianglala”.

Awalnya baca karena tugas mata kuliah film beberapa tahun yang lalu, sebelum saya bangkotan seperti sekarang. Sebelum nonton filmnya, kami diwajibkan membaca ronggeng dukuh paruk terlebih dahulu. Itu pertama kalinya saya baca novel yang “tidak malu-malu” alias gamblang betul.

Kalian harus baca biar tau apa maksud saya. Hehehehe..

Saya ceritakan secara singkat saja, ya lur. Bahwa novel tersebut bercerita tentang persahabatan anak perempuan dan laki-laki bernama Srintil dan Rasus. Kemudian pada masa kecil mereka, seorang ronggeng terkenal meninggal karena keracunan.

Setelah 12 tahun kematian Ronggeng tersebut, Srintil berhasil dinobatkan sebagai ronggeng dukuh paruk yang baru, karena bakatnya menari ronggeng sejak kecil tumbuh dengan sendirinya tanpa diajarkan oleh siapapun. Sebagai sahabat Srintil, Rasus nampak agak tidak setuju dengan keputusan Srintil untuk menjadi Ronggeng Dukuh Paruk karena khawatir, dan lebih-lebih cemburu karena Srintil menjadi dikenal oleh banyak orang, dengan kata lain tidak ada lagi waktu bermain dengannya seperti dulu. (Mohon koreksi kalau ada kesalahan).

Selanjutnya kalian harus baca sendiri, karena novelnya benar-benar bagus. Karena banyak kejadian yang tidak terduga, alias gak mudah ditebak. Atau paling nggak… tontonlah filmnya…….

oh! lupa saya, filmnya susah didapatkan. Itu hanya untuk pembelajaran kuliah saja. Dulu tidak dipublikasikan luas. Saya tidak tau bagaimana dengan sekarang. Mungkin sudah dipublish? Mungkin..

Kemarin novel Ronggeng Dukuh Paruk sudah bisa ditemui di toko buku, dan lagi-lagi, dulu susah sekali untuk cari buku itu. Bahkan sampai rebutan di perpustakaan. 😂

Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel pertama yang saya baca dengan gaya cerita tidak menye-menye atau pasaran. Saya pun ikut hanyut ketika membacanya, rasa-rasanya saya juga ikut tinggal di Desa Dukuh Paruk bersama Srintil dan Rasus. Mungkin, ini bisa jadi referensi buku untuk kalian yang pusing nyari novel berbobot, yang ceritanya gak pasaran.

Oh! saya kemarin ada beli buku dengan judul “Sekumpulan Orang-Orang Keren Bernama Dayat” karya Pidi Baiq dan “Indonesia berkerabat” karya Andika Hendra.

Baru saya baca yang punya Pidi Baiq dan sudah selesai tadi sore. Iya Pidi Baiq..

kalian yang anak milenial pasti tau novel Milea ama Dilan dong? Ya Pidi Baiq ini pengarangnya. Bedanya novel “Dayat” ini lebih banyak cerita misteri dan komedinya. Bagus juga. Nanti saya kasi ulasan di halaman yang berbeda sajah.

Resensi – The Book of Forbidden Feeling, Lala Bohang

Hari ini saya bakal bikin resensi buku karya penulis kesayangan saya: mba Lala Bohang.

Kenapa kesayangan? Soalnya di buku ini, kita gak cuma nemuin rangkaian tulisan atau puisi, tapi juga dipadu dengan illustrasi beliau yang sangat berkarakter. Yah, baru sekali liat aja udah ketahuan kalo itu gambarnya mba Lala. ♥️

Mengenai konsep buku, kalo kata beliau, konsep bukunya adalah no concept concept. Jadi beliau bilang konsepnya adalah nothing. Tapi walaupun mba Lala ini bilang bukunya sendiri itu nothing, alias ga berkonsep, justru dari sanalah pesan bukunya terbungkus apik. Tujuan utama dari buku tersebut adalah membuat “teman” yang sebenarnya tidak ada secara fisik. nothing. Bukan apa-apa. Tidak ada. Konsep yang bertujuan untuk mengekspresikan rasa atau hal-hal yang tidak boleh, dilarang atau hal yang sulit diekspresikan oleh seseorang. Bahwa hidup Kita INI terlalu banyak batasan. Terlalu banyak hal yang dilarang. Terlalu banyak hal yang sulit diekspresikan oleh seseorang. Entah lidahnya kelu atau tidak tau bagaimana caranya berkomunikasi.

Dan memang ketika membaca buku tersebut, aku secara otomatis langsung “Huuhuuu.. iya aku ngerti kamu..” kemudian memeluk buku tersebut dengan erat layaknya dengan teman curhat.

Dari judulnya, sebenernya udah menarik ya.

Iya, aku tertarik juga sih sama judulnya yang mengandung kata-kata “forbidden” ya……. maap ya aku gak tau kenapa. Merasa tertantang aja dengan kata “forbidden”……… Apa dah………. Maap lagi dah ya kalo gajelas. Buat yang pengen cari inspirasi doodle atau puisi juga, buku ini pas banget untuk dijadikan referensi. Atau bisa sekalian ke museum of Forbidden Feelings – nya beliau.

Resensi – Dayat, Pidi Baiq

Kenal Milea sama Dilan dong ya?

Iyalah.. wong filmnya booming.

Kalo Band Panas Dalam Kenal Gak? Iya itu sama, ya yang nyanyi ya si Pidi Baiq penulis novel Milea – Dilan Tadi. Hehe

Bedanya ya.. lagu-lagunya Pidi Baiq ini mengandung unsur-unsur komedi, seperti cita-citaku, dan belajar berhitung. Ga kayak film Dilan 1990 yang genrenya romantis.

Beberapa hari lalu saya menemukan satu karya Pidi Baiq lainnya, berjudul Dayat atau “Sekumpulan orang-orang keren bernama Dayat”. Buku tersebut merupakan kumpulan cerpen yang dikombinasi sama komik dan illustrasi.

Kali ini kebanyakan cerpennya lebih ke cerita misteri, yah.. ada komedinya juga sedikit. Hahahah.. memang sepertinya Bang Pidi belum bisa move on dari unsur komedi, dan bahkan udah ngecap jadi karakteristik tersendiri buat karya-karya Bang Pidi.

Illustrasinya bagus, dan ceritanya juga menarik, gak kalah absurd sama lagu-lagu bang Pidi. But so far.. saya suka. Yah.. ada beberapa cerpen yang gak begitu saya suka karena agak sedikit bisa ditebak endingnya. Tapi secara keseluruhan, bukunya lumayan lah untuk bacaan hiburan selepas jam kerja. Hehehe.. Dan ternyata buku tersebut bukan hanya ditulis oleh Pidi Baiq, tapi juga hasil karya beberapa pemenang lomba cerpen yang diselenggarakan oleh salah satu penerbit nasional bersama Pidi Baiq. Untuk yang suka cerpen misteri-komedi, buku ini pas banget nemenin waktu senggang kalian. Kalo penasaran, beli aja. Kalo gak penasaran, yaudah.

Akhir kata, saya ucapkan

UHUY!

Resensi – Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, Mark Manson

Duhh buku ini bener-bener kayak temen yang pukpukin pundak eike. Banyak sekali belajar sesuatu sehabis baca buku ini. Terutama untuk bersikap Bodo Amat. Entah terhadap kesulitan diri sendiri yang mau gak mau harus dijalani. Bodo amat dengan rasa sakit atau capek yang kita hadapi. Juga masa bodo terhadap kesuksesan orang, jangan bandingkan diri kita dengan mereka. Recommended utk orang stress utk belajar legowo. Berikut jenis “masa bodo” lainnya yang dibahas dalam buku:
Masa bodo terhadap sesuatu yang sempurna. Sebaliknya, sudah seharusnya menerima kekurangan & keadaan diri sendiri. Ingat, tidak ada orang yg superior.
Masa bodo terhadap rintangan dan kesulitan. Menerima bahwa sesuatu memang sulit dicapai dan masa bodo terhadap rintangan yg dihadapi. Meskipun berat, kita harus masa bodo terhadap rasa sakit dan capek untuk mencapai suatu tujuan.
Masa bodo terhadap rasa benar dari diri sendiri. Berhenti menyalahkan orang lain. Berhenti sok benar dan sok menjadi korban. Berhenti menghakimi orang lain, karena kalian tidak pernah tau keadaan seseorang.
Masa bodoh terhadap kehidupan orang lain. Berhenti membandingkan mereka dengan diri sendiri. Misal: kenapa teman-teman saya sukses dan saya tidak?
Masa bodoh terhadap nilai ukur yang tinggi. Masih ada hubungannya dengan membandingkan diri dg orang lain. Kemudian bagaimana jika kita membuat nilai ukur sendiri yg sekiranya bisa kita capai? Seperti membeli panci saja sudah cukup. Masa bodoh dengan tetangga yang sering beli mobil baru
Jangan paksa diri Kita untuk mempunyai nilai yg sama dengan yg lain. Kayaknya bahasa lainnya ya bersyukur. Biarin aja orang lain punya 5 appartement. Kalau nilai ukurmu adalah “yang penting punya rumah untuk berteduh” tercapai dan mampu bersyukur, otomatis kamu akan bahagia.
Sebagai contoh, tau band Metallica? Gitarisnya ditendang dari band tersebut. Kemudian membentuk band baru namanya Megadeath.
Pada akhirnya keduanya sama-sama terkenal dan sukses menjual ribuan keping CD. Sayangnya si gitaris Megadeath itu masih aja ngebandingin jumlah penjualan yang menurutnya kalah jauh sama Metallica. Padahal sih gak gitu-gitu amat.
Padahal dia pun sudah dapat penghargaan maupun pengakuan bahwa dia adalah salah satu musisi paling berpengaruh pada saat itu
Tapi karena selalu membandingkan dirinya dengan teman-temannya terdahulu di Metallica, dia menganggap dirinya gak sukses. Masih aja kurang tiap kali liat Metallica menjual CD lebih.
Dendamnya itu memaksa dia mematok nilai ukur yang ketinggian. Padahal cuma selisih angka sedikit. Nah hal itu lah yg membuat dia susah bahagia. Pusing karena target atau nilai ukurnya utk bersaing dengan Metallica gak tercapai.
Menurut Mark Manson, kalau dia bisa rubah patokannya, misalnya: cukup hanya dengan menjual CD banyak dan menjadi terkenal tanpa menyaingi siapapun, tentu dia bakal gampang bahagia. Legowo istilahnya.
Ada juga cerita lain tentang drummer the Beatles, sama seperti gitaris Megadeath, dia ditendang dari Beatles. Bedanya dia gak buat band baru.
Dia pun gak terlalu terkenal, dan lebih memilih hidup sederhana dengan istrinya. Ketika ditanya apa dia menyesal atau tidak, jawabannya tidak.
Dia justru happy dengan hidup sederhananya yang gak ribet. Gak ada drama, maupun saingan. Intinya dia ikhlas-ikhlas aja ditendang. Toh hidupnya masih berkecukupan. Lagi-lagi, kuncinya legowo.
Ada juga anak petualang yang berhasil nemuin tentara jepang di filipina, yang hilang bertahun-tahun.
Ia sudah diperingatkan oleh beberapa orang: “awas, nanti kamu bisa ikutan ilang” “awas nanti kamu bisa dimakan binatang buas di hutan”
Tapi dia tetap berangkat. Dia mengerti resiko itu. Dan bodo amat dengan semua kesulitan yang ia dengar. Karena dia tau apa yang dia mau. Tapi juga pakai ukuran kemampuan diri sendiri.
Pokoknya abis baca ini lumayan tenang. Buku ini menyadarkan saya ternyata selama ini saya mematok nilai yang terlalu tinggi, takut tersaingi, takut tergantikan, yang padahal itu semua gak papa. Kalau kalian merasakan hal yang sama, buku ini beneran recommended untuk dibaca.
Kalau tertarik dan bingung cari bukunya, bisa dibeli disini.