Random Soliloquy – Bahasa Enggres

Dulu banget saya sering ngoreksi Bahasa Inggris orang. Kadang sering ketawa kalau ada orang yang salah ucap. Yang padahal, saya sendiri juga ga bagus-bagus amat.

Kalau saya ngomong, kadang ada satu dua kata yang ketinggalan atau seharusnya diucapin tapi malah nggak. Tertukar sama kata kerja, kata benda, bahkan dengan Bahasa lain, misal bahasa Prancis, yang ejaan atau bunyinya hampir mirip.

Kalau ngetik, suka typo. Kapital ditengah-tengah, salah ejaan, bahkan yang paling sering adalah grammarnya.

Saya mulai sadar bahwa ternyata memang tidak semudah itu Ferguso. Tapi buat kalian yang gak pernah salah typo, grammatical, atau ke-switch dengan Bahasa lain yang tulisannya hampir mirip.. selamat dehh. Salut!

Buat yang masih suka salah-salah seperti saya, tetap semangat, tetap praktek yang baik, salah itu normal, tapi usahakan jangan terlalu sering. Kuncinya, ga perlu takut salah. Dikoreksi orang jangan marah, sebab dari sana mungkin kita justru lebih bisa memperbaiki diri. Yang paling penting adalah menerima kalau Kita memang kurang. Gak perlu gengsi. Hehehe

Ada juga tipe orang yang suka komentar:

“Ambil sastra Inggris kok masih suka salah-salah??”

Gapapa. Itu normal. Saya pun ambil sastra Prancis juga ga perfect-perfect amat Bahasa Prancisnya. Bukan cuma saya, bahkan ada beberapa teman yang sudah lupa total. Alasannya cuma satu: sehabis lulus gak pernah dipraktekkan lagi tu Bahasa Prancis.

Yap, kuncinya praktek. Sekali lagi, inget jangan takut salah. Biarlah orang komenin kalian seperti apa pun. Menerima kalau kita memang kurang itu lebih legowo, dari pada jaim dan tetep bersi keras bahwa: “Enak aja! Aku tuh udh cukup bagus bahasanya! Cuma kurang praktek aja!”

Saya sendiri lebih baik bilang: “Yahh iya memang nih udah lupa. Mungkin karena gak pernah pake Bahasa ini lagi. Mau belajar lagi ah. Ajarin ya?”

Tapi saya percaya, ada beberapa orang yang memang getol belajar, dan terbukti bisa naik level.

Ada juga yang udah ketakutan duluan kalau disuruh praktek Bahasa Enggres langsung sama bule.

Oh iya, fyi, biasanya bule udah cukup kok kalau kita ngerti omongan dia, dan begitupula omongan kita bisa dimengerti mereka. Intinya, suatu pesan telah tersampaikan dengan baik. Itu sebabnya, jangan takut salah. Mereka ngerti kok kalau Bahasa ibu kita bukan Enggres.

Yap, biasanya bule lebih maklum kenapa Kita gak bisa terlalu lancar, tapi gak sedikit dari mereka yg ngasi semangat kita, misalnya dengan ngoreksi cara pengucapan. Enaknya sih, mereka ngasi tau tanpa sama sekali Ada niat ngetawain atau ngejek Kita. Mereka 100% untuk ngoreksi.

Gapapa. Toh itu demi kita juga biar gak salah omong ke depannya. Buat yang pengen latihan bahasa inggris bisa nonton video berbahasa inggris di youtube. Atau biasakan mulai dari sekarang belajar membaca novel yang berbahasa inggris. Ada nih, beli aja disini.

Jadi, tetep semangat belajar yah!

Saya juga.

Ashiaaappp😂

Random Soliloquy – Reunian

14 February 2018.

Kemarin pukul 8.30 pagi aku bertemu dengan kawan lama. Kusebut kawan karena kurasa dia akan malas jika kupanggil dengan sebutan gebetan. kalau dipikir-pikir, cuma 3 bulan tidak saling sapa alias bertemu langsung. Tapi rasanya lama terutama sejak dia resign.

Ya memang awalnya kami teman satu kantor biasa. Lama-lama jadi luar biasa. Atau mungkin juga cuma aku yang merasa begitu?

Rabu kami putuskan untuk reuni hanya untuk sekedar menonton film terbaru, duduk berdua di bioskop, karena yang lain hanya kuanggap sebagai cameo.

Iya, dari 8.30 pagi hingga petang. Ya.. tidak melulu seharian dengannya, karena kami bekerja di tempat yang berbeda saat ini. Tidak seperti dulu, sekantor dan gampang ketemunya.

Sepulang kerja kami bertemu lagi, karena aku menumpang motornya. Rasanya asik. Terutama ketika membicarakan hal-hal yang tidak jelas tema-nya.

Selain menonton, kami cuma nyemil popcorn, dan setelahnya makan malam bersama. Kami makan nasi dan ayam geprek. Tapi sudah membuatku cukup lega. Terutama karena sudah tau kalau kawanku ini masih menganggapku sebagai kawannya juga, setelah sempat melewati suasana senggang 3 bulan tadi.

Oh, aku sempat kelimpungan dibuatnya, terutama setelah dia tiba-tiba menghilang bak siluman di film kera sakti. Kupikir dia sudah tidak mau berkawan lagi. Maka dari itu aku lega bukan main setelah bisa berkomunikasi lagi seperti sebelumnya.

Kalau tidak salah, kemarin itu tanggal 14 februari, yang biasanya orang-orang sebut dengan hari valentine. Dan kalau kuingat-ingat, Aku pernah 2 kali berpacaran. Tapi jarang merayakan hal-hal yang demikian.

Malam minggu, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sendiri di kosan, atau jalan-jalan sendiri. Rasanya waktu itu sama saja dengan single. Tapi tak apa.

Dan ini baru pertama kalinya keluar pada tanggal itu, dengan kawan. Kawan spesial, pake telor! Spesial karena dia lucu, sopan dan pintar.

Aku selalu ketawa tiap kali dia bicara. Tiap kali ingat pun ingin ketawa sendiri aku dibuatnya.

Selalu saja ada topik random yang menarik! Dan aku suka topik-topik macam itu, dibandingkan pembicaraan serius atau gombalan gak ketulungan.

Meskipun kadang akunya yang mendadak jadi serius. Tanpa segan kawanku menyadarkanku bahwa aku ini terlalu serius menanggapi candaannya, dan kemudian aku kembali lagi membicarakan hal-hal random dengannya.

Ah!

Memang tidak ada yang lebih baik dari hal random. Hal yang membuatku senang mendadak dan tidak berhenti ketawa, padahal tidak mengkonsumsi mushroom.

Omong-omong senang sekali masih ada orang-orang random di bumi.

Salah satunya kau.

Halo, kawan!

Senang bisa jumpa dari pagi hingga petang..

Resensi – My Comic

indonesian comic

Saya punya dua komik gak bermutu. Satunya saya publish di platform yang bagus banget yaitu webtoon dengan judul Mitos Kaum Hawa. Karena saya pikir komik saya gak bermutu, saya berhenti. Dari pada menuh-menuhin webtoon. Alias.. masih banyak komikus yang jauh lebih bagus untuk nge-publish karyanya di situ hahahaha.

Terus satunya lagi saya posting harian atau kalau sempet aja di instagram. Yah dua-duanya genrenya sama, yaitu slice of life. Menceritakan tentang kehidupan keseharian kebanyakan orang. kalau yang diinstagram itu kebanyakan komik galau atau cuma sekedar doodle about daily life. Iya, galau gara-gara kamu! huh!

Berikut cuplikan komik dan linknya kalau mau baca. Kalau gak, yaudah gak papa.

Wassalam

Mitos Kaum Hawa

psbre_01 (1).jpg

Mitos Kaum Hawa Link

Doodelio

kio6bw

@Doodelio Link

Random Soliloquy – Pawon, 7.45

Aku di pawon. Meracik tempe bacem kesukaan ayahku. Yang kebetulan proses rebusnya cukup lama. Paling tidak airnya harus sampai kering, supaya bumbunya meresap ke dalam. Rentang waktu memasak tempe bacem ini kumanfaatkan untuk berbicara. Berbicara melalui tulisan yang sekarang ini kalian baca. Kalau teman-teman lebih memilih untuk bercerita pada sahabat terdekatnya, Aku lebih memilih bercerita di internet. Intinya sama saja kan? Ada orang yang membaca artinya ada yang mendengarkan. Bedanya hanya pada titik kebosanan.

Teman bisa saja bosan pada cerita kita yang itu-itu saja. Karena teman suka aneh. Jika tidak bercerita, dia akan terus bertanya. Jika bercerita, mereka bisa saja menguap mendengarkan cerita kita. Aku pun menghormati, bahwa manusia pasti akan bosan. Dan alasan mengapa aku lebih suka bercerita di Internet, bahwa perihal kebosanan itu tidak terjadi pada internet. Jika ada yang membaca syukur, tidak ada pembaca pun tak apa. Rasanya ringan saja sudah bercerita. Apalagi bercerita tentang kau yang tidak ada habis-habisnya. Bisa-bisa seluruh temanku akan bosan mendengarkan tentangmu.

Hari hariku belakangan ini semacam krupuk melempem. Melempem tapi pura-pura renyah. Kalau ditanya teman-teman kujawab saja seadanya dengan ekspresi yang kupastikan terlihat biasa-biasa saja. Walaupun sebenarnya aku ingin membanting barang-barang di sekitar sambil teriak-teriak. Tapi mengingat kondisi ekonomi, bahwa aku tidak bisa mengganti barang-barang mahal milik atasan, dan mengingat kemungkinan bahwa teman-teman akan menganggapku gila setelahnya, Aku pun mengurungkan niat, dengan menyembunyikan emosi dan berekspresi biasa-biasa saja. Menjawab pertanyaan bahwa kabarmu baik, walau aku juga tidak pernah bertemu denganmu lagi.

Ya alasannya karena tadi. Aku malas bercerita panjang lebar dengan teman-teman yang mungkin saja akan bosan atau kasihan mendengar ceritaku. Dan aku orang yang cukup tau diri untuk tidak mau membuat mereka bosan dengan ceritaku. Dan aku paling malas dikasihani.

Buat apa?

Toh aku senang walaupun waktu itu kau cuma bercanda.

Ada kalanya beberapa orang teman diam-diam bertemu kau yang berupaya menghilang dari peredaran. dan mereka, tentu saja merahasiakannya dariku. Tenang saja, aku tidak akan bertanya pada mereka. Walaupun ingin. Tapi seperti yang kubilang tadi, aku ini cukup tau diri. Kalau kau tidak mau diganggu, ya aku tidak akan bertanya. Aku juga tau teman-teman akan risih jika aku bertanya soal kau. Jadi, aku pun tidak bertanya apa-apa pada mereka. Aku menjaga kenyamanan kau dan teman-teman. Jadi tenang saja. Aku tidak akan bertanya apa-apa lagi.

Kusesap kopi yang kuracik sendiri dengan jahe dan gula jawa. Rasanya enak. Pahit, manis dan hangat. Entah kenapa aku juga jadi ingat kau tiap kali lihat jahe.

Oh, bukan. Bukan karena kau mirip jahe. Tapi karena kau dulu juga sering membuat minuman jahe, dan kau juga pernah minta jahe padaku yang juga suka membuat minuman jahe. Bedanya kau buat teh manis dan aku kopi hitam tanpa gula. Yang pernah kau bilang bahwa rasanya aneh karena terlalu pahit.

Aku tau kalau saja kau membaca tulisan ini, kau pasti akan tertawa geli. Dan tidak habis pikir kenapa aku menulis tentang kau. Yah, aku cuma butuh teman, atau benda mati yang bisa mendengarkan ceritaku. Salah satunya melalui mesin blog ini. Iya. Salah satunya dengan menulis ini.

Kalau kau mau protes untuk berhenti ditulis, proteslah pada dirimu sendiri. Siapa suruh kau buat anak sastra jatuh cinta? Ini lah akibatnya..

Oh, soal yang dulu-dulu, Kau boleh lupakan saja, terutama kalau kau anggap kesalahan sudah sempat bercanda denganku. Tapi aku senang.

Terimakasih sudah mau,

Paling tidak untuk berteman lagi.

Resensi – Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari

Kalau mengaku suka sastra, pasti tau betul siapa Ahmad Tohari.

Yep. Penulis Indonesia dengan salah satu karyanya yang berjudul “Sang Penari” sukses difilmkan. Sebenarnya ini diadaptasi dari trilogi, gabungan dari tiga novel berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”, “Lintang Kemukus Dinihari” dan “Jantera Bianglala”.

Awalnya baca karena tugas mata kuliah film beberapa tahun yang lalu, sebelum saya bangkotan seperti sekarang. Sebelum nonton filmnya, kami diwajibkan membaca ronggeng dukuh paruk terlebih dahulu. Itu pertama kalinya saya baca novel yang “tidak malu-malu” alias gamblang betul.

Kalian harus baca biar tau apa maksud saya. Hehehehe..

Saya ceritakan secara singkat saja, ya lur. Bahwa novel tersebut bercerita tentang persahabatan anak perempuan dan laki-laki bernama Srintil dan Rasus. Kemudian pada masa kecil mereka, seorang ronggeng terkenal meninggal karena keracunan.

Setelah 12 tahun kematian Ronggeng tersebut, Srintil berhasil dinobatkan sebagai ronggeng dukuh paruk yang baru, karena bakatnya menari ronggeng sejak kecil tumbuh dengan sendirinya tanpa diajarkan oleh siapapun. Sebagai sahabat Srintil, Rasus nampak agak tidak setuju dengan keputusan Srintil untuk menjadi Ronggeng Dukuh Paruk karena khawatir, dan lebih-lebih cemburu karena Srintil menjadi dikenal oleh banyak orang, dengan kata lain tidak ada lagi waktu bermain dengannya seperti dulu. (Mohon koreksi kalau ada kesalahan).

Selanjutnya kalian harus baca sendiri, karena novelnya benar-benar bagus. Karena banyak kejadian yang tidak terduga, alias gak mudah ditebak. Atau paling nggak… tontonlah filmnya…….

oh! lupa saya, filmnya susah didapatkan. Itu hanya untuk pembelajaran kuliah saja. Dulu tidak dipublikasikan luas. Saya tidak tau bagaimana dengan sekarang. Mungkin sudah dipublish? Mungkin..

Kemarin novel Ronggeng Dukuh Paruk sudah bisa ditemui di toko buku, dan lagi-lagi, dulu susah sekali untuk cari buku itu. Bahkan sampai rebutan di perpustakaan. 😂

Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel pertama yang saya baca dengan gaya cerita tidak menye-menye atau pasaran. Saya pun ikut hanyut ketika membacanya, rasa-rasanya saya juga ikut tinggal di Desa Dukuh Paruk bersama Srintil dan Rasus. Mungkin, ini bisa jadi referensi buku untuk kalian yang pusing nyari novel berbobot, yang ceritanya gak pasaran.

Oh! saya kemarin ada beli buku dengan judul “Sekumpulan Orang-Orang Keren Bernama Dayat” karya Pidi Baiq dan “Indonesia berkerabat” karya Andika Hendra.

Baru saya baca yang punya Pidi Baiq dan sudah selesai tadi sore. Iya Pidi Baiq..

kalian yang anak milenial pasti tau novel Milea ama Dilan dong? Ya Pidi Baiq ini pengarangnya. Bedanya novel “Dayat” ini lebih banyak cerita misteri dan komedinya. Bagus juga. Nanti saya kasi ulasan di halaman yang berbeda sajah.

Resensi – The Book of Forbidden Feeling, Lala Bohang

Hari ini saya bakal bikin resensi buku karya penulis kesayangan saya: mba Lala Bohang.

Kenapa kesayangan? Soalnya di buku ini, kita gak cuma nemuin rangkaian tulisan atau puisi, tapi juga dipadu dengan illustrasi beliau yang sangat berkarakter. Yah, baru sekali liat aja udah ketahuan kalo itu gambarnya mba Lala. ♄

Mengenai konsep buku, kalo kata beliau, konsep bukunya adalah no concept concept. Jadi beliau bilang konsepnya adalah nothing. Tapi walaupun mba Lala ini bilang bukunya sendiri itu nothing, alias ga berkonsep, justru dari sanalah pesan bukunya terbungkus apik. Tujuan utama dari buku tersebut adalah membuat “teman” yang sebenarnya tidak ada secara fisik. nothing. Bukan apa-apa. Tidak ada. Konsep yang bertujuan untuk mengekspresikan rasa atau hal-hal yang tidak boleh, dilarang atau hal yang sulit diekspresikan oleh seseorang. Bahwa hidup Kita INI terlalu banyak batasan. Terlalu banyak hal yang dilarang. Terlalu banyak hal yang sulit diekspresikan oleh seseorang. Entah lidahnya kelu atau tidak tau bagaimana caranya berkomunikasi.

Dan memang ketika membaca buku tersebut, aku secara otomatis langsung “Huuhuuu.. iya aku ngerti kamu..” kemudian memeluk buku tersebut dengan erat layaknya dengan teman curhat.

Dari judulnya, sebenernya udah menarik ya.

Iya, aku tertarik juga sih sama judulnya yang mengandung kata-kata “forbidden” ya……. maap ya aku gak tau kenapa. Merasa tertantang aja dengan kata “forbidden”……… Apa dah………. Maap lagi dah ya kalo gajelas. Buat yang pengen cari inspirasi doodle atau puisi juga, buku ini pas banget untuk dijadikan referensi. Atau bisa sekalian ke museum of Forbidden Feelings – nya beliau.