Random Soliloquy – Reunian

14 February 2018.

Kemarin pukul 8.30 pagi aku bertemu dengan kawan lama. Kusebut kawan karena kurasa dia akan malas jika kupanggil dengan sebutan gebetan. kalau dipikir-pikir, cuma 3 bulan tidak saling sapa alias bertemu langsung. Tapi rasanya lama terutama sejak dia resign.

Ya memang awalnya kami teman satu kantor biasa. Lama-lama jadi luar biasa. Atau mungkin juga cuma aku yang merasa begitu?

Rabu kami putuskan untuk reuni hanya untuk sekedar menonton film terbaru, duduk berdua di bioskop, karena yang lain hanya kuanggap sebagai cameo.

Iya, dari 8.30 pagi hingga petang. Ya.. tidak melulu seharian dengannya, karena kami bekerja di tempat yang berbeda saat ini. Tidak seperti dulu, sekantor dan gampang ketemunya.

Sepulang kerja kami bertemu lagi, karena aku menumpang motornya. Rasanya asik. Terutama ketika membicarakan hal-hal yang tidak jelas tema-nya.

Selain menonton, kami cuma nyemil popcorn, dan setelahnya makan malam bersama. Kami makan nasi dan ayam geprek. Tapi sudah membuatku cukup lega. Terutama karena sudah tau kalau kawanku ini masih menganggapku sebagai kawannya juga, setelah sempat melewati suasana senggang 3 bulan tadi.

Oh, aku sempat kelimpungan dibuatnya, terutama setelah dia tiba-tiba menghilang bak siluman di film kera sakti. Kupikir dia sudah tidak mau berkawan lagi. Maka dari itu aku lega bukan main setelah bisa berkomunikasi lagi seperti sebelumnya.

Kalau tidak salah, kemarin itu tanggal 14 februari, yang biasanya orang-orang sebut dengan hari valentine. Dan kalau kuingat-ingat, Aku pernah 2 kali berpacaran. Tapi jarang merayakan hal-hal yang demikian.

Malam minggu, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sendiri di kosan, atau jalan-jalan sendiri. Rasanya waktu itu sama saja dengan single. Tapi tak apa.

Dan ini baru pertama kalinya keluar pada tanggal itu, dengan kawan. Kawan spesial, pake telor! Spesial karena dia lucu, sopan dan pintar.

Aku selalu ketawa tiap kali dia bicara. Tiap kali ingat pun ingin ketawa sendiri aku dibuatnya.

Selalu saja ada topik random yang menarik! Dan aku suka topik-topik macam itu, dibandingkan pembicaraan serius atau gombalan gak ketulungan.

Meskipun kadang akunya yang mendadak jadi serius. Tanpa segan kawanku menyadarkanku bahwa aku ini terlalu serius menanggapi candaannya, dan kemudian aku kembali lagi membicarakan hal-hal random dengannya.

Ah!

Memang tidak ada yang lebih baik dari hal random. Hal yang membuatku senang mendadak dan tidak berhenti ketawa, padahal tidak mengkonsumsi mushroom.

Omong-omong senang sekali masih ada orang-orang random di bumi.

Salah satunya kau.

Halo, kawan!

Senang bisa jumpa dari pagi hingga petang..

Random Soliloquy – Pawon, 7.45

Aku di pawon. Meracik tempe bacem kesukaan ayahku. Yang kebetulan proses rebusnya cukup lama. Paling tidak airnya harus sampai kering, supaya bumbunya meresap ke dalam. Rentang waktu memasak tempe bacem ini kumanfaatkan untuk berbicara. Berbicara melalui tulisan yang sekarang ini kalian baca. Kalau teman-teman lebih memilih untuk bercerita pada sahabat terdekatnya, Aku lebih memilih bercerita di internet. Intinya sama saja kan? Ada orang yang membaca artinya ada yang mendengarkan. Bedanya hanya pada titik kebosanan.

Teman bisa saja bosan pada cerita kita yang itu-itu saja. Karena teman suka aneh. Jika tidak bercerita, dia akan terus bertanya. Jika bercerita, mereka bisa saja menguap mendengarkan cerita kita. Aku pun menghormati, bahwa manusia pasti akan bosan. Dan alasan mengapa aku lebih suka bercerita di Internet, bahwa perihal kebosanan itu tidak terjadi pada internet. Jika ada yang membaca syukur, tidak ada pembaca pun tak apa. Rasanya ringan saja sudah bercerita. Apalagi bercerita tentang kau yang tidak ada habis-habisnya. Bisa-bisa seluruh temanku akan bosan mendengarkan tentangmu.

Hari hariku belakangan ini semacam krupuk melempem. Melempem tapi pura-pura renyah. Kalau ditanya teman-teman kujawab saja seadanya dengan ekspresi yang kupastikan terlihat biasa-biasa saja. Walaupun sebenarnya aku ingin membanting barang-barang di sekitar sambil teriak-teriak. Tapi mengingat kondisi ekonomi, bahwa aku tidak bisa mengganti barang-barang mahal milik atasan, dan mengingat kemungkinan bahwa teman-teman akan menganggapku gila setelahnya, Aku pun mengurungkan niat, dengan menyembunyikan emosi dan berekspresi biasa-biasa saja. Menjawab pertanyaan bahwa kabarmu baik, walau aku juga tidak pernah bertemu denganmu lagi.

Ya alasannya karena tadi. Aku malas bercerita panjang lebar dengan teman-teman yang mungkin saja akan bosan atau kasihan mendengar ceritaku. Dan aku orang yang cukup tau diri untuk tidak mau membuat mereka bosan dengan ceritaku. Dan aku paling malas dikasihani.

Buat apa?

Toh aku senang walaupun waktu itu kau cuma bercanda.

Ada kalanya beberapa orang teman diam-diam bertemu kau yang berupaya menghilang dari peredaran. dan mereka, tentu saja merahasiakannya dariku. Tenang saja, aku tidak akan bertanya pada mereka. Walaupun ingin. Tapi seperti yang kubilang tadi, aku ini cukup tau diri. Kalau kau tidak mau diganggu, ya aku tidak akan bertanya. Aku juga tau teman-teman akan risih jika aku bertanya soal kau. Jadi, aku pun tidak bertanya apa-apa pada mereka. Aku menjaga kenyamanan kau dan teman-teman. Jadi tenang saja. Aku tidak akan bertanya apa-apa lagi.

Kusesap kopi yang kuracik sendiri dengan jahe dan gula jawa. Rasanya enak. Pahit, manis dan hangat. Entah kenapa aku juga jadi ingat kau tiap kali lihat jahe.

Oh, bukan. Bukan karena kau mirip jahe. Tapi karena kau dulu juga sering membuat minuman jahe, dan kau juga pernah minta jahe padaku yang juga suka membuat minuman jahe. Bedanya kau buat teh manis dan aku kopi hitam tanpa gula. Yang pernah kau bilang bahwa rasanya aneh karena terlalu pahit.

Aku tau kalau saja kau membaca tulisan ini, kau pasti akan tertawa geli. Dan tidak habis pikir kenapa aku menulis tentang kau. Yah, aku cuma butuh teman, atau benda mati yang bisa mendengarkan ceritaku. Salah satunya melalui mesin blog ini. Iya. Salah satunya dengan menulis ini.

Kalau kau mau protes untuk berhenti ditulis, proteslah pada dirimu sendiri. Siapa suruh kau buat anak sastra jatuh cinta? Ini lah akibatnya..

Oh, soal yang dulu-dulu, Kau boleh lupakan saja, terutama kalau kau anggap kesalahan sudah sempat bercanda denganku. Tapi aku senang.

Terimakasih sudah mau,

Paling tidak untuk berteman lagi.