Resensi – The Book of Forbidden Feeling, Lala Bohang

Hari ini saya bakal bikin resensi buku karya penulis kesayangan saya: mba Lala Bohang.

Kenapa kesayangan? Soalnya di buku ini, kita gak cuma nemuin rangkaian tulisan atau puisi, tapi juga dipadu dengan illustrasi beliau yang sangat berkarakter. Yah, baru sekali liat aja udah ketahuan kalo itu gambarnya mba Lala. ♥️

Mengenai konsep buku, kalo kata beliau, konsep bukunya adalah no concept concept. Jadi beliau bilang konsepnya adalah nothing. Tapi walaupun mba Lala ini bilang bukunya sendiri itu nothing, alias ga berkonsep, justru dari sanalah pesan bukunya terbungkus apik. Tujuan utama dari buku tersebut adalah membuat “teman” yang sebenarnya tidak ada secara fisik. nothing. Bukan apa-apa. Tidak ada. Konsep yang bertujuan untuk mengekspresikan rasa atau hal-hal yang tidak boleh, dilarang atau hal yang sulit diekspresikan oleh seseorang. Bahwa hidup Kita INI terlalu banyak batasan. Terlalu banyak hal yang dilarang. Terlalu banyak hal yang sulit diekspresikan oleh seseorang. Entah lidahnya kelu atau tidak tau bagaimana caranya berkomunikasi.

Dan memang ketika membaca buku tersebut, aku secara otomatis langsung “Huuhuuu.. iya aku ngerti kamu..” kemudian memeluk buku tersebut dengan erat layaknya dengan teman curhat.

Dari judulnya, sebenernya udah menarik ya.

Iya, aku tertarik juga sih sama judulnya yang mengandung kata-kata “forbidden” ya……. maap ya aku gak tau kenapa. Merasa tertantang aja dengan kata “forbidden”……… Apa dah………. Maap lagi dah ya kalo gajelas. Buat yang pengen cari inspirasi doodle atau puisi juga, buku ini pas banget untuk dijadikan referensi. Atau bisa sekalian ke museum of Forbidden Feelings – nya beliau.

Resensi – Dayat, Pidi Baiq

Kenal Milea sama Dilan dong ya?

Iyalah.. wong filmnya booming.

Kalo Band Panas Dalam Kenal Gak? Iya itu sama, ya yang nyanyi ya si Pidi Baiq penulis novel Milea – Dilan Tadi. Hehe

Bedanya ya.. lagu-lagunya Pidi Baiq ini mengandung unsur-unsur komedi, seperti cita-citaku, dan belajar berhitung. Ga kayak film Dilan 1990 yang genrenya romantis.

Beberapa hari lalu saya menemukan satu karya Pidi Baiq lainnya, berjudul Dayat atau “Sekumpulan orang-orang keren bernama Dayat”. Buku tersebut merupakan kumpulan cerpen yang dikombinasi sama komik dan illustrasi.

Kali ini kebanyakan cerpennya lebih ke cerita misteri, yah.. ada komedinya juga sedikit. Hahahah.. memang sepertinya Bang Pidi belum bisa move on dari unsur komedi, dan bahkan udah ngecap jadi karakteristik tersendiri buat karya-karya Bang Pidi.

Illustrasinya bagus, dan ceritanya juga menarik, gak kalah absurd sama lagu-lagu bang Pidi. But so far.. saya suka. Yah.. ada beberapa cerpen yang gak begitu saya suka karena agak sedikit bisa ditebak endingnya. Tapi secara keseluruhan, bukunya lumayan lah untuk bacaan hiburan selepas jam kerja. Hehehe.. Dan ternyata buku tersebut bukan hanya ditulis oleh Pidi Baiq, tapi juga hasil karya beberapa pemenang lomba cerpen yang diselenggarakan oleh salah satu penerbit nasional bersama Pidi Baiq. Untuk yang suka cerpen misteri-komedi, buku ini pas banget nemenin waktu senggang kalian. Kalo penasaran, beli aja. Kalo gak penasaran, yaudah.

Akhir kata, saya ucapkan

UHUY!

Resensi – Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, Mark Manson

Duhh buku ini bener-bener kayak temen yang pukpukin pundak eike. Banyak sekali belajar sesuatu sehabis baca buku ini. Terutama untuk bersikap Bodo Amat. Entah terhadap kesulitan diri sendiri yang mau gak mau harus dijalani. Bodo amat dengan rasa sakit atau capek yang kita hadapi. Juga masa bodo terhadap kesuksesan orang, jangan bandingkan diri kita dengan mereka. Recommended utk orang stress utk belajar legowo. Berikut jenis “masa bodo” lainnya yang dibahas dalam buku:
Masa bodo terhadap sesuatu yang sempurna. Sebaliknya, sudah seharusnya menerima kekurangan & keadaan diri sendiri. Ingat, tidak ada orang yg superior.
Masa bodo terhadap rintangan dan kesulitan. Menerima bahwa sesuatu memang sulit dicapai dan masa bodo terhadap rintangan yg dihadapi. Meskipun berat, kita harus masa bodo terhadap rasa sakit dan capek untuk mencapai suatu tujuan.
Masa bodo terhadap rasa benar dari diri sendiri. Berhenti menyalahkan orang lain. Berhenti sok benar dan sok menjadi korban. Berhenti menghakimi orang lain, karena kalian tidak pernah tau keadaan seseorang.
Masa bodoh terhadap kehidupan orang lain. Berhenti membandingkan mereka dengan diri sendiri. Misal: kenapa teman-teman saya sukses dan saya tidak?
Masa bodoh terhadap nilai ukur yang tinggi. Masih ada hubungannya dengan membandingkan diri dg orang lain. Kemudian bagaimana jika kita membuat nilai ukur sendiri yg sekiranya bisa kita capai? Seperti membeli panci saja sudah cukup. Masa bodoh dengan tetangga yang sering beli mobil baru
Jangan paksa diri Kita untuk mempunyai nilai yg sama dengan yg lain. Kayaknya bahasa lainnya ya bersyukur. Biarin aja orang lain punya 5 appartement. Kalau nilai ukurmu adalah “yang penting punya rumah untuk berteduh” tercapai dan mampu bersyukur, otomatis kamu akan bahagia.
Sebagai contoh, tau band Metallica? Gitarisnya ditendang dari band tersebut. Kemudian membentuk band baru namanya Megadeath.
Pada akhirnya keduanya sama-sama terkenal dan sukses menjual ribuan keping CD. Sayangnya si gitaris Megadeath itu masih aja ngebandingin jumlah penjualan yang menurutnya kalah jauh sama Metallica. Padahal sih gak gitu-gitu amat.
Padahal dia pun sudah dapat penghargaan maupun pengakuan bahwa dia adalah salah satu musisi paling berpengaruh pada saat itu
Tapi karena selalu membandingkan dirinya dengan teman-temannya terdahulu di Metallica, dia menganggap dirinya gak sukses. Masih aja kurang tiap kali liat Metallica menjual CD lebih.
Dendamnya itu memaksa dia mematok nilai ukur yang ketinggian. Padahal cuma selisih angka sedikit. Nah hal itu lah yg membuat dia susah bahagia. Pusing karena target atau nilai ukurnya utk bersaing dengan Metallica gak tercapai.
Menurut Mark Manson, kalau dia bisa rubah patokannya, misalnya: cukup hanya dengan menjual CD banyak dan menjadi terkenal tanpa menyaingi siapapun, tentu dia bakal gampang bahagia. Legowo istilahnya.
Ada juga cerita lain tentang drummer the Beatles, sama seperti gitaris Megadeath, dia ditendang dari Beatles. Bedanya dia gak buat band baru.
Dia pun gak terlalu terkenal, dan lebih memilih hidup sederhana dengan istrinya. Ketika ditanya apa dia menyesal atau tidak, jawabannya tidak.
Dia justru happy dengan hidup sederhananya yang gak ribet. Gak ada drama, maupun saingan. Intinya dia ikhlas-ikhlas aja ditendang. Toh hidupnya masih berkecukupan. Lagi-lagi, kuncinya legowo.
Ada juga anak petualang yang berhasil nemuin tentara jepang di filipina, yang hilang bertahun-tahun.
Ia sudah diperingatkan oleh beberapa orang: “awas, nanti kamu bisa ikutan ilang” “awas nanti kamu bisa dimakan binatang buas di hutan”
Tapi dia tetap berangkat. Dia mengerti resiko itu. Dan bodo amat dengan semua kesulitan yang ia dengar. Karena dia tau apa yang dia mau. Tapi juga pakai ukuran kemampuan diri sendiri.
Pokoknya abis baca ini lumayan tenang. Buku ini menyadarkan saya ternyata selama ini saya mematok nilai yang terlalu tinggi, takut tersaingi, takut tergantikan, yang padahal itu semua gak papa. Kalau kalian merasakan hal yang sama, buku ini beneran recommended untuk dibaca.
Kalau tertarik dan bingung cari bukunya, bisa dibeli disini.